Surat untuk Pejuang Dakwah 2

Assalamu’alaikum wr.wb
Bagaimana kabar antum hari ini? Alhamdulillah, luar biasa, Allahu Akbar. Mungkin antum para aktivis dakwah akan menyuarakan seperti itu, tapi apakah benar antum baik-baik saja?
Pejuang dakwah tak pernah baik-baik saja. Masalah pasti bertamu di badan, pikiran dan hati antum.

Belum lama ini ada seseorang yang bertanya pada saya, “Apa alasanmu ikut beginian ?”
“Apa ya?”, jawabku bingung.
“Selain untuk memperbaiki diri sendiri”,tambahnya.
“Alasan itu udah cukup menurutku” jawabku begitu yakinnya.
Ya, alasanku memang tak terdengar diplomatis, sesuai dengan yang diharapkan oleh si penanya, tapi sungguh alasan itu yang amat kuat mendorongku kala itu dan mungkin masih sama sampai saat ini.

Satu lagi seorang teman juga bertanya, “Apa yang membuatmu bertahan disini?”
“Karena ada kamu”, jawabku.
Aku juga tak tahu, mungkin terlalu nyaman untuk ditinggalkan, pikirku dalam hati.

Setidaknya sebagian besar dari antum pun pasti awalnya memilih jalan ini karena alasan memperbaiki diri, sama saja bukan? Ya, termasuk saya pun seperti itu, ingin mencari tahu banyak hal untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya sendiri. Karena ingin berkomitmen pada Islam dengan lebih baik, karena ingin menjadi orang orang yang sholih/sholihah.

Tapi menjadi orang sholih saja sesungguhnya tak cukup bagi antum, wahai para pejuang dakwah. Karena seorang pejuang artinya adalah seseorang yang berbuat, seseorang yang berpengaruh, seseorang yang membuat suatu perubahan, dan seseorang seperti itulah antum. Antumlah seorang yang Mushlih, orang yang berkomitmen pada perjuangan Islam, yang menerima beban amat berat di pundak yang mungkin begitu lemah. Kemudian keadaan memaksa kita berlari mengejar ketertinggalan agar mampu memenuhi kapasitas, dan terus istiqamah bertahan di jalan ini.

Dan menyebalkan memang saat sebenarnya kaki kita masih terlalu lemah untuk berjalan, tapi kita dipaksa untuk berlari. Tampak begitu banyak ketidakadilan di sana sini, nampak seolah suara dari berbagai pihak yang sebenarnya baik menjadi seolah buruk karena tak jatuh sebagai nasihat tapi sebagai perintah.

Mungkin juga terkadang tersirat niat untuk sekedar pembuktian atas kuasa diri, bayang bayang jabatan, atau pandangan hebat dari orang lain. Tapi sungguh itu manusiawi, kita hanya perlu kembali meluruskan niat ketika mulai berbelok. Bahwa sebuah amanah dalam perjuangan ini adalah apa yang dilandasi amal jama’i, kesalahan dan keberhasilannya dipikul bersama. Karena amanah bukanlah prestige tapi sebuah tanggung jawab.

Mungkin juga karena terlalu banyak teori yang mudah terucap hingga sudah dihafal diluar kepala tapi tak bisa dilaksanakan semudah omongan itu dikeluarkan.  Pun konsep-konsep yang begitu luar biasa hanya berakhir menjadi cerita akibat mimpi itu bertemu realita.

Atau pemikiran dari beberapa pihak yang tak pernah kita pahami kenapa mereka tak berfikir sama dengan kita. Menjadikan apa yang benar terlihat salah, dan apa yang salah menjadi dibenarkan. Lalu tak tahu bagaimana menyimpulkan yang benar. Dan akhirnya menjadi percakapan tanpa kesimpulan yang solutif.

Ketahuilah semakin antum larut dalam perjuangan ini maka akan semakin banyak hal yang antum tak mengerti, semakin banyak hal yang terasa harus dibenarkan, semakin banyak pula hembusan nafas panjang pertanda kelelahan.

Tapi entah kenapa bagi para pejuang komitmen bertahan disini amat kuat, padahal jalanan ini penuh kelokan, penuh cabang dan itulah yang membuat jalanan ini tak banyak dilalui. Membuat antum menjadi orang yang kabarnya tidak pernah “baik-baik saja”.

Wahai ikhwah fillah, ada di jalan dakwah bukan tanpa guna. Berjuang dalam dakwah adalah suatu berkah, dan beruntunglah antum karena hanya beberapa saja yang hidupnya mengenal jalan ini.
Ada suatu saat dimana antum akan merasakan nikmatnya berada di jalan ini, dan mungkin ada saat lain dimana hadiah yang amat besar, kebahagiaan yang haqiqi akan antum rasakan, karena kita yakin janji Allah tak kan pernah ingkar.
Semua manis dan pahitnya akan menjadi sebuah cerita penuh pelajaran dan semua itu hanya akan dirasakan oleh mereka yang berjuang.

Untuk mereka yang telah, akan, dan terus berjuang.

Al Hadiid 1516 & Al Hadiid 1617

Ditulis sepanjang April-Juni 2016
311310090

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s