Pembentukan Negara Madinah (sirah nabawiyah)

rencana pengembangan kota Madinah

Setelah hijrah yang pertama ke Habasyah, kaum muslimin melakukan hijrah kedua, dan terhitung sebagai hijrah terbesar, yaitu ke Yastrib atau lebih dikenal dengan madinatul munawarah juga madinatun nabi.

Keberhasilan hijrah ini, merupakan buah dari usaha yang telah dilakukan Rasululloh dan para sahabat sejak lama. Dimulai dengan adanya utusan (delegasi) duta dakwah, yaitu Mus’ab bin Umair, juga adanya pembaiatan; Aqabah I, dan Aqabah II.

Setelah tiba di Madinah, Rasululloh diangkat sebagai pimpinan. Tidak hanya pimpinan dalam hal agaman namun juga dalam lah tatatertib kemasyarakatan yang ada. Dalam hal ini Rasululloh saw. menerapkan 3 (tiga) hal mendasar yang menjadi pengokoh persatuan umat muslim dan non-muslim di Madinah.

1. Membangun masjid sebagai tempat ibadah (sholat), sebagai sarana untuk  mempersatukan kaum muslimin dan mempererat jiwa mereka, sebagai tempat bermusyawarah dan berunding masalah tata kemasyarakatan, dan sebagai tempat untuk menimbah ilmu. 2. Mempersaudarakan sahanat dari muhajirin dengn sahabat dari anshor.

3. Menjalin hubungan baik dengan pihak-pihak non-muslim dalam hal memberikan kekebasan dalam beribadah, bermuamalah, berpolitik dan bekerjasama dalam menjaga keutuhan dan keamanan Madinah. Ini termaktub dalam konstitusi madinah.

Peperangan yang diikuti Rasululloh :

1. Perang Badr, terjadi pada 8 Ramadhan ke-2 Hijriyah. Sebenarnya pasukan muslimin bukan hendak berperang dengan kaum Quraisy ketika itu, yaitu hanya ingin menghadang kabilah dagang Abu Sufyan yang hendak ke Syam dengan pengawal kira-kira 1.000 (seribu) orang. Dengan jumlah yang jauh lebih sedikit, kira-kira 300-an (tiaga ratus) orang kaum muslimin akhirnya tidak bisa mengelak untuk terjadinya sebuah peperangn dengan kabilah dagang tersebut. Berkat bantuan dari Alloh, pasukan yang lebih sedikit jumlahnya tersebut bisa memenangkan pertempuran.

2. Perang Uhud, terjadi pada tahun ke-3 Hijriyah. Rasa kesal akibat kekalahan di Badr membuat orang Quraisy jengkel dan marah. Menggunakan sekitar 3000 (tiga ribu) pasukan baik pasukan berkuda maupun yang memakai baju besi. Dipimpin langsung oleh komandan perang Khalid bin Walid menuju ke bukit Uhud. Sebenarnya kaum muslimin menang telah ketiaka perang berlangsung diawal, walau jumalah passukan yang hanya sepertiga, yaitu 1000 (seribu), ditambah 300 pasukan dari Yahudi yang pulang karena hasutan Abdullah bin Ubay. Karena strategi dari kaum muslimin sangat jitu dengan menempatkan 50 (lima puluh) orang pasukan pemanah diatas bukit dan berhasil memporak-porandakan barisan perang kaum Quraisy. namun pesan yang diwanti-wanti oleh Rasululloh sejak sebelum perang kepada para pemanah ini dilanggar. yaitu pemanah tidak boleh turun dari bukit apapaun yang terjadi dibawah. Ketika musuh (Quraisy) mundur dengan meninggalkan harta perang, inilah yang menjadi penyebab turunnya para pemanah dari bukit. dan sebagai akhir dari peperanga adalah kaum muslimin menderita kerugian besar hingga 70 (tujuh puluh) sahabat penghafal Al-Qur’an sayid di medan ini. bahkan Rasululloh pun terkena panah hingga baju besi yang beliau kenakan tertembus sampai ke tulang rahang beliau.

3. Perang Khandaq atau Perang Ahzab, terjadi pada tahun ke-5 Hijriyah. Merupakan prerang yang melibatkan banyak pihak. Mulai dari Quraisy, Yahudi, dan beberapa suku lain yang tidak suka dengan keberadaan Islam. sekitar 24.000 (dua puluh empat ribu) pasukan siap untuk menggempur kota madinah. Namun dengan bantuan ide dari Salman Al Farisi dengan pengalaman ketika perang di Persia dulu, beliau mengusulkan untuk membuat parit sepanjang areal masuk kota Madinah (sekitar 3 Km). Parit yang dibuat berukuran kedalaman menapai 3 m dan lebar menapai 10 m. Akhirnya pasukan sekutu hanya bisa menunggu dengan berkemah di luar kota madinah karena tidak ada yang berhasil untuk masuk ke madinah. Alloh menurunkan topan dan badai, hingga porak-poranda perkemahan musuh.

4. Perang Mut’ah

5. Perang Hunain

6. Perang Mut’ah

Perjanjian Hudaibiyah :

1. Kaum muslimin belum boleh menggunjungi ka’bah tahun ini hingga tiga tahun berikutnya.

2. Lama kunjungan hanya dibatasi 3 (tiga) hari saja.

3. Kaum muslimin wajib mengembalikan orang-orang makkah yang melarikan diri ke Madinah, sedang sebaliknya kaum Quraisy tidak harus menolak orang-orang Madinah yang kembali ke Makkah.

4. Selama sepuluh tahun diberlakukan genjatan senjata antara masyarakat Madinah dan Makkah.

5. Setiap kabilah yang ingin masuk kedalam persekutuan kaum Quraisy atau kaum muslimin, bebas melakukan tanpa mendapat rintangan.

baca lebih lengkat di Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam :)

Satu pemikiran pada “Pembentukan Negara Madinah (sirah nabawiyah)

  1. yang saya ragukan rasu bukan membangun negara madinah, pusat pemerintahan rosul ada di madinah.. coba ditelaah kembali Madinah saat itu belum dapat disebut sebagai negara menurut konsep politik modern, karena tidak mengenal distribusi kekuasaan sebagaimana konsep trias politica (eksekutif, legislatif dan yudikatif).
    tidak ada nash yang sharîh menjelaskan bahwa Nabi mendirikan sebuah negara Islam, dan merangkap menjadi penguasa atau raja. Tugas utama beliau diutus di muka bumi, tak lain menjalankan misi kerasulan, bukan menjadi penguasa politik. Jika ia betul-betul telah mendirikan negara sebagai religius necessity, mengapa pula dia tidak berbicara sedikitpun tentang konsep negara Islam secara gamblang? Adapun kenyataan bahwa beliau berhasil mencetuskan Piagam Madinah, sebagaimana yang dikatakan Loenard Binder (1988: 142) tetap “tidak dapat disebut sebagai rezim kerasulan” (the prophetic regime).

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s